Kamis, 21 Oktober 2010

Umur Panjang—Apakah Rahasianya di Okinawa?

Ukuran huruf
Longevity
Is the Secret in Okinawa?

▪ Pada tahun 2006, Kepulauan Okinawa di Jepang yang berpenduduk 1,3 juta diperkirakan memiliki hampir 740 centenarian (orang yang berusia 100 tahun atau lebih)—90 persen di antaranya adalah wanita. Jumlah ini menunjukkan bahwa ada sekitar 50 centenarian untuk setiap 100.000 penduduk, menurut Penelitian Centenarian Okinawa yang diketuai oleh Dr. Makoto Suzuki. Di kebanyakan negara maju, rasionya diperkirakan antara 10 sampai 20 per 100.000 orang.

Penelitian yang masih berlangsung itu, yang dianggap sebagai ”penelitian centenarian yang tidak pernah terputus dan paling lama di dunia”, mendapati bahwa ”cukup banyak centenarian yang kondisi kesehatannya sangat baik”. Untuk mengetahui alasannya, Suzuki dan timnya menyelidiki gaya hidup serta genetika lebih dari 900 centenarian, serta banyak orang Okinawa lainnya yang berusia 70-an atau lebih tua. Para peneliti itu mendapati bahwa para lansia tersebut kebanyakan bertubuh ramping serta bugar, pembuluh darah mereka bersih, dan sangat sedikit yang mengidap penyakit kanker dan jantung. Dan, di antara orang-orang yang usianya mendekati 100 tahun, lebih sedikit yang menderita demensia dibandingkan dengan orang-orang sebayanya di negara-negara maju lainnya. Apa rahasianya?

Satu faktor yang utama ialah pembawaan genetis. Tetapi, ada faktor-faktor lain juga—penghindaran tembakau, penggunaan alkohol yang bersahaja, dan pola makan yang sehat. Orang Okinawa cenderung mengkonsumsi makanan yang rendah kalori dan kaya dengan sayur serta buah, serat alami, dan lemak yang baik (omega-3, lemak tak jenuh tunggal). Dan, mereka memiliki kebiasaan makan hanya sampai 80 persen kenyang. ”Anda harus berhenti makan pada saat pertama Anda merasa kenyang,” kata Dr. Bradley Willcox, seorang rekan peneliti di proyek tersebut. ”Ada tenggang waktu sekitar 20 menit sebelum perut menyampaikan pesan itu ke otak.”

Orang Okinawa tetap aktif secara fisik dengan berkebun, berjalan setiap hari, melakukan tarian tradisional, atau melakukan kegiatan lainnya. Tes kepribadian menyingkapkan bahwa para centenarian itu bersikap optimis dan mudah menyesuaikan diri. Mereka menangani stres dengan baik, dan kaum wanitanya terutama mempertunjukkan ”integrasi sosial yang kuat”.
”Tidak ada pil ajaib” untuk umur panjang, kata Willcox. Sebagaimana disingkapkan penelitian tersebut, umur panjang bergantung pada gen, pola makan, olah raga, kebiasaan yang baik, ”dan cara yang sehat untuk mengatasi stres”.

By Awake! Writer in Japan

Appeared (an official web site on line) in Awake! November 2008

Kamis, 16 September 2010

Makanan Transgenik—Amankah bagi Anda?

Formats and Article, Ilustration from Jehovah's Witnesses Official Web Site










BERGANTUNG di mana Anda tinggal, mungkin hari ini Anda telah mengkonsumsi makanan transgenik (GM/genetically modified) sewaktu makan pagi, siang, atau malam. Ini bisa berupa kentang yang dapat melawan sendiri hama, atau tomat yang tetap segar lama setelah dipetik. Selain itu, makanan atau komposisi transgenik sering tidak diindikasikan pada labelnya dan rasanya tidak berbeda dari yang alami.

Bahkan, seraya Anda membaca artikel ini, palawija transgenik seperti kedelai, jagung, sawi, dan kentang sedang ditanam di Amerika Serikat, Argentina, Brasil, Cina, Kanada, dan Meksiko. Menurut sebuah laporan, ”pada tahun 1998, 25 persen jagung, 38 persen kedelai, dan 45 persen kapas yang ditanam di Amerika Serikat adalah jenis yang telah diubah secara genetika, baik untuk membuatnya tahan terhadap pembasmi lalang maupun untuk membuatnya menghasilkan pestisida sendiri”. Menjelang akhir 1999, diperkirakan sekitar 40 juta hektar tanah garapan komersial di seluruh dunia ditanami tanaman transgenik, meski tidak semuanya tanaman pangan.

Amankah makanan yang diubah secara genetika? Apakah teknik ilmiah yang digunakan untuk memproduksi tanaman transgenik dapat mengancam lingkungan? Di Eropa, debat tentang hal ini sedang hangat-hangatnya. Kata seorang pemrotes asal Inggris, ”Satu-satunya keberatan saya tentang makanan transgenik adalah bahwa mereka tidak aman, tidak diingini, dan tidak perlu.”

Bagaimana Makanan Diubah Secara Genetika?

Sains yang melatarbelakangi makanan transgenik disebut bioteknologi pangan—penggunaan ilmu genetika modern untuk meningkatkan mutu tanaman, hewan, dan mikroorganisme guna menghasilkan makanan. Tentu saja, konsep mengutak-atik makhluk hidup hampir setua pertanian itu sendiri. Petani pertama yang menangkar sapi jantannya yang terbaik dengan sapi betinanya yang terbaik guna memperbaiki keturunan, sebaliknya daripada membiarkan binatang itu berkembang biak secara acak, sebenarnya menerapkan bioteknologi sederhana. Pembuat roti pertama yang menggunakan enzim ragi untuk membuat roti mengembang juga menggunakan makhluk hidup guna menghasilkan produk yang lebih bermutu. Ciri utama teknik klasik adalah penggunaan proses alami untuk mengubah makanan.

Bioteknologi modern juga menggunakan organisme hidup untuk membuat atau memodifikasi produk. Bedanya dengan metode klasik, bioteknologi modern memodifikasi materi genetika organisme secara langsung dan tepat. Hal ini memungkinkan transfer gen antara organisme yang sama sekali berbeda, sehingga dapat menghasilkan kombinasi yang tidak dapat dihasilkan dengan cara biasa. Sekarang, penangkar bisa mengambil sifat-sifat dari organisme lain dan menaruhnya pada genom suatu tanaman—misalnya, ketahanan ikan terhadap suhu yang membekukan, ketahanan virus terhadap penyakit, dan ketahanan serangga terhadap bakteri tanah.

Misalnya, jika petani ingin kentang atau apelnya tidak menjadi kecokelatan sewaktu dikupas atau tergesek, maka para peneliti menyingkirkan gen penyebab perubahan warna ini dan menggantinya dengan versi modifikasi yang dapat mencegah proses tersebut. Atau, misalnya, petani bit ingin menanam lebih awal agar panennya lebih bagus. Biasanya, ia tidak melakukannya, karena menanam lebih awal berarti menanamnya di musim dingin, dan bit membeku bila cuaca dingin. Bioteknologi pun beraksi dengan mencangkokkan gen dari ikan yang tahan dingin pada bit. Alhasil, bit transgenik dapat bertahan pada suhu serendah –6,5° Celsius, lebih dari dua kali suhu yang dapat dihadapi bit biasa.

Namun, keefektifan sifat-sifat hasil transfer gen tunggal ini terbatas. Sains modern belum sanggup memodifikasi keseluruhan kelompok gen, sehingga tidak dapat mengubah sifat-sifat yang kompleks, seperti tingkat pertumbuhan atau ketahanan terhadap musim kering. Bagaimanapun, banyak dari gen-gen ini bahkan belum ditemukan.

Revolusi Hijau yang Baru?

Meski adanya keterbatasan tersebut, para pendukung bioteknologi tetap optimis. Mereka berpendapat bahwa tanaman transgenik menjanjikan revolusi hijau yang baru. Sebuah perusahaan bioteknologi terkemuka menyatakan bahwa rekayasa genetika adalah ”sarana yang berpotensi untuk menyediakan lebih banyak makanan” bagi seluruh penduduk bumi yang bertambah sekitar 230.000 jiwa per hari.

Tanaman transgenik telah membantu menekan biaya produksi pangan. Beberapa tanaman pangan dibentengi gen penghasil pestisida alami, sehingga tidak diperlukan lagi penyemprotan racun kimia. Palawija transgenik yang sedang dikembangkan mencakup polong-polongan dan biji-bijian yang kadar proteinnya lebih tinggi—manfaat yang cukup besar bagi negara miskin. ”Tanaman super” semacam ini dapat mewariskan gen dan sifat baru yang bermanfaat kepada keturunannya, sehingga menghasilkan panen yang berlimpah dari tanah yang pas-pasan di negara miskin dan padat penduduk.

”Kita pasti ingin menambah penghasilan petani,” kata direktur sebuah firma bioteknologi terkemuka. ”Dan, kami akan melakukannya—dengan ’penangkaran selektif’ yang telah dilakukan para petani selama berabad-abad, tetapi kali ini menggunakan bioteknologi pada tingkat molekuler dan gen tunggal. Kami akan menciptakan produk yang lebih baik, yang memenuhi kebutuhan spesifik, dan melakukannya lebih cepat daripada sebelumnya.”

Namun, menurut para ilmuwan agraris, gencarnya dukungan terhadap rekayasa genetika sebagai solusi untuk kekurangan pangan merongrong penelitian tanaman yang sedang dilakukan. Meski kurang eksotis, penelitian ini lebih efektif dan juga bermanfaat bagi negara miskin. ”Jangan terburu-buru menggunakan teknologi yang belum terbukti ini, sebab masih banyak solusi yang lebih efisien untuk masalah pangan,” kata Hans Herren, pakar pemberantasan penyakit tanaman.

Masalah Etika

Selain masalah kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup, ada yang berpendapat bahwa modifikasi genetika tanaman dan organisme hidup lainnya menghadirkan masalah moral dan etika. Ilmuwan dan aktivis Douglas Parr mengamati, ”Rekayasa genetika memasuki ambang manipulasi manusia terhadap planet kita, sehingga mengubah kodrat kehidupan itu sendiri.” Jeremy Rifkin, penulis buku The Biotech Century, mengatakan, ”Sekali melewati semua batas biologis, kita mulai menganggap spesies hanya sebagai informasi genetika yang berubah-ubah. Ini membawa kita kepada konsep yang sama sekali baru, bukan saja tentang hubungan kita dengan alam, tapi juga tentang cara kita menggunakannya.” Itu sebabnya, ia bertanya, ”Apakah kehidupan memiliki nilai intrinsik atau hanya nilai guna saja? Apa kewajiban kita terhadap generasi masa depan? Bagaimana tanggung jawab kita terhadap makhluk yang hidup berdampingan dengan kita?” *



Potential Dangers?

Bioteknologi berkembang sedemikian pesatnya sehingga tidak ada hukum maupun lembaga yang dapat mengimbanginya. Riset tidak dapat mencegah timbulnya konsekuensi yang tak terduga. Semakin banyak kritik memperingatkan akan akibat-akibat yang tidak diinginkan, mulai dari kekacauan ekonomi yang parah terhadap para petani di dunia hingga perusakan lingkungan dan ancaman kesehatan. Para peneliti memperingatkan bahwa tidak ada uji coba skala besar dan jangka panjang untuk membuktikan bahwa makanan transgenik memang aman. Mereka menandaskan sejumlah bahaya laten.

  • Reaksi alergi. Misalnya, jika gen yang memproduksi protein penyebab alergi dimasukkan ke jagung, maka orang-orang yang alergi terhadap makanan berada dalam bahaya besar. Meski departemen kesehatan mewajibkan perusahaan-perusahaan melaporkan adanya protein penyebab alergi dalam makanan transgenik, beberapa peneliti mengkhawatirkan bahwa senyawa tak dikenal penyebab alergi dapat lolos deteksi.
  • Increased toxicity. Semakin beracun. Beberapa pakar percaya bahwa modifikasi genetika dapat membuat toksin alami tanaman semakin beracun secara tidak terduga. Sewaktu sebuah gen diaktifkan, selain menghasilkan pengaruh yang diinginkan, hal itu dapat juga merangsang produksi toksin alami.
  • Resistance to antibiotics. Kebal antibiotik. Dalam memodifikasi gen tanaman, para peneliti menggunakan gen penanda untuk menentukan apakah gen yang diinginkan sudah tertanam. Karena kebanyakan gen penanda memberikan kekebalan terhadap antibiotik, para kritikus khawatir bahwa ini dapat menyumbang pada berkembangnya masalah kekebalan terhadap antibiotik. Namun, para ilmuwan lain mengatakan bahwa gen penanda semacam itu telah diacak secara genetika sebelum digunakan, sehingga mengurangi bahaya ini.
  • Spread of "superweeds." Menyebarnya ”lalang super”. Salah satu bahaya yang paling menakutkan adalah bahwa setelah tanaman hasil modifikasi ditanam, gen kebal herbisida yang telah dimasukkan ke tanaman tersebut akan menyebar lewat benih dan serbuk sari ke tanaman lalang, sehingga menghasilkan ”lalang super” yang kebal herbisida.
  • Harm to other organisms. Berbahaya bagi organisme lain. Pada bulan Mei 1999, para peneliti dari Cornell University melaporkan bahwa ulat kupu-kupu raja yang mengkonsumsi daun bertaburkan serbuk sari dari jagung transgenik menjadi sakit dan mati. Meskipun ada yang meragukan keabsahan penelitian ini, tetap ada kekhawatiran bahwa spesies lain dapat terancam.
  • Demise of safe pesticides. Punahnya pestisida yang aman. Dari antara tanaman-tanaman transgenik yang paling sukses, sebagian mengandung gen penghasil protein yang beracun bagi hama serangga. Namun, para biolog memperingatkan bahwa serangga yang mengkonsumsi racun yang dihasilkan gen ini akan menjadi kebal sehingga pestisida pun mubazir.


* Orang-orang lain, termasuk seorang pangeran dari Inggris, berpendapat bahwa memindahkan gen antara spesies-spesies yang jelas-jelas tidak ada hubungannya ”membawa kita ke dalam ruang lingkup milik Allah, dan hanya milik Allah sendiri”. Para pelajar Alkitab sangat yakin bahwa Allah adalah ”sumber kehidupan”. (Mazmur 36:9) Akan tetapi, tidak ada bukti kuat bahwa Allah mengecam penangkaran selektif terhadap binatang dan tanaman, sesuatu yang telah membantu planet kita memelihara miliaran orang. Kita lihat saja apakah bioteknologi modern akan mencelakakan manusia dan lingkungan atau tidak. Jika bioteknologi benar-benar melewati batas ”ruang lingkup milik Allah”, maka—berdasarkan kasih dan kepedulian terhadap manusia—Dia dapat membatalkannya


Copyright © 2010 for this blog from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved. Appeared in Awake! April 22, 2000

Selasa, 31 Agustus 2010

Bagaimana Alam Semesta dan Kehidupan Bermula?

Ant Nebula (Menzel 3), from Hubble Space Telescope

RECONCILING Science and Religion



Sains akan pincang tanpa agama, dan agama akan buta tanpa sains.”—Albert Einstein.

MASA kita ini adalah masa terjadinya banyak sekali hal menakjubkan yang tidak pernah ada sebelumnya. Berbagai penemuan baru dari luar angkasa memaksa para astronom untuk merevisi pandangan mereka tentang asal mula alam semesta kita. Banyak orang terpesona oleh ketertiban alam semesta dan mengajukan berbagai pertanyaan klasik yang terkait dengan keberadaan kita: Bagaimana alam semesta dan kehidupan bermula dan mengapa?

Bahkan, kalau kita melihat ke arah lain—ke dalam diri kita—pemetaan kode genetis manusia yang dilakukan baru-baru ini menimbulkan pertanyaan: Bagaimana beragam bentuk kehidupan tercipta? Dan siapa, jika ada, yang menciptakannya? Kerumitan yang luar biasa dari cetak biru genetis kita menggerakkan seorang presiden Amerika untuk berkata bahwa ”kita sedang belajar bahasa yang Allah gunakan untuk menciptakan kehidupan”. Salah seorang ilmuwan kepala yang terlibat dalam penguraian kode genetis tersebut dengan rendah hati menyatakan, ”Kita baru melihat sekilas buku panduan kita sendiri, yang sebelumnya hanya diketahui oleh Allah.” Namun, pertanyaannya tetap belum terjawab—bagaimana dan mengapa?

Dua Jendela”

Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa semua mekanisme alam semesta ini dapat dijelaskan oleh analisis rasional, sehingga tidak perlu ada hikmat ilahi. Namun, banyak orang, termasuk para ilmuwan, tidak puas dengan pandangan ini. Mereka berupaya memahami realitas dengan melihat keduanya, sains maupun agama. Mereka merasa bahwa sains dapat menjelaskan caranya kita dan kosmos di sekitar kita tercipta, sementara agama dapat menjelaskan alasannya kita tercipta.

Tentang pendekatan dua arah ini, fisikawan Freeman Dyson menjelaskan, ”Sains dan agama adalah dua jendela yang melaluinya orang-orang berupaya memahami alam semesta yang luas di luar.”

Sains berurusan dengan apa yang dapat diukur, agama berurusan dengan apa yang tidak dapat diukur,” kata penulis William Rees-Mogg. Ia mengatakan, ”Sains tidak dapat membuktikan atau menyangkal keberadaan Allah, sebagaimana hal itu juga tidak dapat membuktikan benar-tidaknya gagasan moral atau estetika tertentu. Tidak ada alasan ilmiah mengapa kita harus mengasihi sesama atau merespek nyawa manusia . . . Berpendapat bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah merupakan kesalahan terbesar, yang akan menghapuskan semua yang kita hargai dalam kehidupan, bukan hanya Allah atau kecerdasan manusia, tetapi juga cinta, puisi, dan musik.”

Agama” Sains

Teori-teori para ilmuwan sering didasarkan pada pemikiran yang menuntut suatu kepercayaan tertentu. Misalnya, mengenai asal mula kehidupan, kebanyakan evolusionis berpaut pada gagasan yang menuntut adanya kepercayaan akan ”doktrin-doktrin” tertentu. Fakta dicampuradukkan dengan teori. Dan, sewaktu para ilmuwan menggunakan wewenang mereka untuk memaksakan kepercayaan yang membabi-buta akan evolusi, mereka sebenarnya sedang menyiratkan: ’Anda tidak bertanggung jawab terhadap moralitas Anda karena Anda hanyalah produk biologi, kimia, dan fisika’. Biolog Richard Dawkins mengatakan bahwa di alam semesta ini ’tidak ada rancangan, tidak ada tujuan, tidak ada kebaikan dan tidak ada kejahatan, semuanya sia-sia belaka’.

Untuk mendukung kepercayaan demikian, beberapa ilmuwan memilih mengabaikan riset ekstensif yang dilakukan ilmuwan lain yang bertentangan dengan fondasi teoretis untuk teori-teori mereka tentang asal mula kehidupan. Bahkan meskipun disediakan waktu selama miliaran tahun, pembentukan secara kebetulan molekul kompleks yang dibutuhkan untuk membentuk sel hidup telah terbukti sebagai kemustahilan matematis. Dengan demikian, berbagai teori dogmatis tentang asal mula kehidupan yang muncul di banyak buku pelajaran harus dipandang tidak sah.

Kepercayaan bahwa kehidupan berasal dari kebetulan belaka menuntut lebih banyak iman daripada yang dituntut oleh kepercayaan akan penciptaan. Astronom David Block berkomentar, ”Seseorang yang tidak percaya kepada Pencipta harus memiliki lebih banyak iman daripada yang percaya. Dengan mengatakan bahwa Allah tidak ada, seseorang membuat pernyataan umum yang tak terbukti—hipotesis yang didasarkan pada iman.”

Berbagai penemuan ilmiah dapat menimbulkan sikap respek dan takjub dalam diri beberapa ilmuwan. Albert Einstein mengakui, ”Di kalangan para ilmuwan yang berpemahaman lebih dalam, jarang yang tidak memiliki perasaan religiusnya sendiri. . . . Perasaan religius ini dinyatakan dalam ketakjuban yang sangat besar akan keselarasan hukum alam, yang menyingkapkan adanya suatu kecerdasan yang sedemikian unggulnya sehingga, dibandingkan dengan kecerdasan itu, semua pemikiran dan tindakan sistematis manusia hanyalah tiruan yang sangat tidak berarti.” Namun, hal ini tidak selalu membuat para ilmuwan mempercayai suatu Pencipta, suatu Allah yang berkepribadian.

Batas-Batas Sains

Kita pantas memiliki respek yang sepatutnya terhadap pengetahuan dan pencapaian ilmiah. Akan tetapi, banyak orang sependapat bahwa meskipun sains merupakan suatu cara untuk mengetahui, sains bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan. Tujuan sains adalah menjabarkan fenomena alam dan membantu menjawab bagaimana fenomena-fenomena ini terjadi.

Sains menyediakan pemahaman tentang alam semesta fisik, yakni segala sesuatu yang dapat dilihat. Namun, tidak soal seberapa jauh penyelidikan sains telah dilakukan, hal itu tidak pernah sanggup menjawab pertanyaan tentang tujuan—suatu pertanyaan yang mendasar, yakni mengapa alam semesta ini ada.

Ada beberapa pertanyaan yang tidak pernah dapat dijawab para ilmuwan,” kata penulis Tom Utley. ”Mungkin Ledakan Besar memang terjadi 12 miliar tahun yang lalu. Tetapi, mengapa hal itu terjadi? . . . Bagaimana partikel-partikelnya bisa ada? Sebelum itu ada, apa yang ada di sana?” Utley menyimpulkan, ”Tampak . . . semakin jelas bahwa sains tidak akan pernah memuaskan rasa lapar manusia akan jawaban.”

Pengetahuan ilmiah yang diperoleh melalui keingintahuan demikian, yang sama sekali tidak menyangkal kebutuhan akan suatu Allah, justru meneguhkan betapa kompleks, rumit, dan menakjubkannya dunia tempat kita tinggal ini. Banyak orang yang rasional merasa masuk akal untuk menyimpulkan bahwa hukum fisik dan reaksi kimia serta ADN dan keragaman hayati yang menakjubkan, semuanya mengarahkan kita kepada suatu Pencipta. Tidak ada bukti yang tak dapat disangkal untuk kebalikannya.

Iman Memiliki Realitas”

Jika ada Pencipta di balik alam semesta ini, kita tentu tidak dapat memahami Dia atau tujuan-Nya dengan menggunakan teleskop, mikroskop, atau peralatan ilmiah lainnya. Bayangkanlah seorang tukang tembikar dan sebuah vas yang telah ia bentuk. Pemeriksaan yang begitu menyeluruh terhadap vas itu tidak akan dapat memberikan jawaban tentang mengapa vas itu dibuat. Untuk itu, kita harus bertanya kepada sang tukang tembikarnya sendiri.

Biolog molekuler Francis Collins menjelaskan bagaimana iman dan spiritualitas dapat membantu mengisi kekosongan yang tak terisi oleh sains, ”Saya tidak menganggap agama sebagai sarana yang tepat untuk mengurutkan genom manusia dan juga tidak menganggap sains sebagai sarana untuk mengetahui dunia supernatural. Namun, tentang berbagai pertanyaan yang benar-benar lebih penting lagi, seperti ’Mengapa kita ada di sini?’ atau ’Mengapa umat manusia mendambakan spiritualitas?’, saya mendapati bahwa sains tidak memuaskan. Ada banyak takhayul yang timbul dan tenggelam. Tidak demikian halnya dengan iman, yang memperlihatkan bahwa iman memiliki realitas.”

SELANGKAPNYA DISINI.





Ant Nebula (Menzel 3), from Hubble Space Telescope: NASA, ESA and The Hubble Heritage Team (STScI/AURA)



Appeared (on line) in Awake! June 8, 2002


Copyright © 2010 from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.

Selasa, 13 Juli 2010

Sang Pelopor Pemetaan Dunia

OLEH PENULIS SEDARLAH! DI BELGIA

Pada awal tahun 1544, Gerardus Mercator meringkuk dalam sel penjara yang gelap dan dingin. Ia merasa kehidupannya hampir berakhir. Mengapa ini terjadi pada tokoh kartografi abad ke-16 itu? Untuk mengetahuinya, pertama-tama mari kita cermati kehidupannya serta keadaan pada zamannya.

MERCATOR lahir pada tahun 1512 di Rupelmonde, pelabuhan kecil dekat Antwerpen, Belgia. Ia mengenyam pendidikan di Universitas Louvain. Setelah lulus, ia mendalami ajaran Aristoteles, dan tak lama kemudian, ia resah karena melihat ketidaksesuaian antara pandangan Aristoteles dan ajaran Alkitab. Mercator menulis, ”Ketika saya melihat bahwa versi Musa tentang asal mula bumi dalam banyak hal tidak selaras dengan pandangan Aristoteles dan para filsuf lainnya, saya mulai meragukan kebenaran ajaran semua filsuf dan mulai meneliti rahasia alam.”

Karena tidak ingin menjadi filsuf, Mercator tidak meneruskan kuliahnya. Namun, pencariannya akan bukti yang mendukung kisah penciptaan di Alkitab memenuhi pikirannya sepanjang sisa kehidupannya.

Beralih ke Geografi

Pada tahun 1534, Mercator mulai mempelajari matematika, astronomi, dan geografi di bawah bimbingan matematikawan Gemma Frisius. Selain itu, Mercator mungkin telah belajar seni graver dari Gaspar Van der Heyden, seorang juru graver dan pembuat globe. Pada awal abad ke-16, para pembuat peta menggunakan jenis huruf Gotik yang tebal sehingga ruang yang tersedia untuk menulis informasi pada peta terbatas. Akan tetapi, Mercator menggunakan gaya tulisan baru dari Italia yang disebut italic, atau tulisan miring, yang ternyata bermanfaat dalam pembuatan globe.

Pada tahun 1536, Mercator bekerja sebagai juru graver pada Frisius dan Van der Heyden dalam pembuatan sebuah globe. Tulisan tangan Mercator yang indah turut menyukseskan proyek tersebut. Nicholas Crane, penulis biografi Mercator di zaman modern, menyatakan bahwa sementara pembuat peta lainnya ”menuliskan lima puluh lokasi di Amerika pada peta datar yang lebarnya sama dengan tinggi manusia, Mercator bisa menuliskan enam puluh lokasi pada globe yang diameternya hanya dua jengkal”!


PROYEKSI MERCATOR
Pernahkah Anda mencoba membentangkan kulit jeruk tanpa merobeknya? Tentu saja mustahil. Contoh itu menggambarkan problem yang dihadapi para pembuat peta—bagaimana memproyeksikan sebuah globe pada peta datar. Mercator memecahkan problem itu dengan memperkenalkan sistem yang kini dikenal sebagai proyeksi Mercator. Dalam metode ini, jarak garis-garis yang membentuk derajat garis lintang dari ekuator ke kutub diatur secara proporsional. Meskipun cara ini membuat jarak dan ukuran tidak sesuai dengan kenyataan (terutama yang ke arah utara dan selatan), hal itu merupakan terobosan besar di bidang kartografi. Peta dunia datar yang dibuat Mercator pada tahun 1569 adalah mahakarya yang sangat berperan dalam memasyhurkan namanya sebagai pembuat peta. Sebenarnya, proyeksinya masih digunakan dalam peta-peta laut dan GPS modern.

Proyeksi Mercator bisa dibandingkan
dengan silinder yang dibelah terbuka
dan di atasnya dunia dibentngkan

Lahirnya Seorang Pembuat Peta

Pada tahun 1537, Mercator membuat ”produksi tunggal”-nya yang pertama—peta Palestina, yang ia buat untuk membantu orang-orang ”lebih memahami Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru”. Pada abad ke-16, peta-peta Palestina sangat tidak akurat, beberapa di antaranya memuat kurang dari 30 nama lokasi—dan banyak yang salah tempat. Akan tetapi, peta Mercator berisi lebih dari 400 nama tempat! Selain itu, peta tersebut menunjukkan rute yang dilalui orang Israel sewaktu melintasi gurun setelah Eksodus. Karena keakuratannya, peta itu sangat dikagumi oleh banyak orang yang hidup sezaman dengan Mercator.

Karena terdorong oleh kesuksesannya, Mercator menerbitkan peta dunia pada tahun 1538. Sebelum itu, para pembuat peta tidak banyak tahu tentang Amerika Utara sehingga menyebutnya Negeri Jauh yang Tak Dikenal. Meskipun nama geografis ”Amerika” sudah ada, Mercator-lah yang pertama kali menggunakan nama itu untuk Amerika Utara maupun Amerika Selatan.

Mercator hidup pada zaman ketika berbagai samudra di dunia dijelajahi dan banyak negeri baru ditemukan. Para pelaut menyampaikan informasi yang simpang-siur sehingga pembuatan peta hampir mustahil dilakukan karena pembuatnya harus menebak-nebak informasi yang tidak tersedia. Sekalipun demikian, pada tahun 1541, Mercator berhasil mewujudkan cita-citanya untuk membuat ”globe yang lebih lengkap daripada yang sudah-sudah”.

Dituduh Bidah

Di Louvain, tempat Mercator tinggal, ada banyak penganut Luther. Pada tahun 1536, Mercator bersimpati pada Lutheranisme, dan tampaknya istrinya belakangan menjadi penganut Luther. Pada bulan Februari 1544, Mercator ditangkap bersama 42 warga Louvain lainnya atas tuduhan menulis ”surat-surat yang mencurigakan”. Namun, ada kemungkinan penerbitan peta Palestina karyanya telah mengundang kecurigaan Tapper dan Latomus, dua teolog dari Universitas Louvain. Kedua pria itu memimpin persidangan atas penerjemah Alkitab William Tyndale, yang telah dieksekusi di Belgia pada tahun 1536. Barangkali, Tapper dan Latomus khawatir bahwa peta Palestina buatan Mercator, seperti terjemahan Alkitab Tyndale, memotivasi orang untuk membaca Alkitab. Apa pun alasannya, Mercator dipenjarakan di Kastil Rupelmonde, di kota asalnya.

Mercator's map of the Holy Land

Peta Palestina buatan Mercator, 1537, memuat lebih dari 400 nama tempat

Antoinette Van Roesmaels, salah seorang yang juga diadili, memberi kesaksian bahwa Mercator tidak pernah menghadiri acara pembacaan Alkitab Protestan yang diadakan di rumah pribadi. Namun, karena ia sendiri menghadiri acara demikian, Antoinette dikubur hidup-hidup dan mati lemas. Mercator dibebaskan setelah tujuh bulan dipenjarakan, tetapi semua harta miliknya disita. Pada tahun 1552, Mercator pindah ke Duisburg, Jerman, yang iklim keagamaannya lebih toleran.

Atlas Pertama

Mercator terus membela catatan penciptaan dalam Alkitab. Ia mendedikasikan sebagian besar kehidupannya untuk membuat sintesis, atau gambaran umum, dari apa yang ia sebut seluruh penciptaan ”langit dan bumi, dari permulaan zaman hingga zaman sekarang”. Karya ini berisi informasi kronologis maupun geografis.

Pada tahun 1569, Mercator menerbitkan sebuah daftar tentang berbagai kejadian historis terpenting sejak penciptaan dan seterusnya, yakni bagian pertama sintesisnya yang berjudul Chronologia. Ia ingin membantu pembacanya mengetahui posisi mereka dalam arus waktu dan sejarah. Namun, karena dalam bukunya itu Mercator mencantumkan protes Luther atas indulgensi pada tahun 1517, Chronologia pun dimasukkan dalam daftar buku-buku terlarang Gereja Katolik.

Pada tahun-tahun sesudahnya, Mercator mengabdikan banyak waktu untuk menggambar serta menggraver pelat untuk peta-peta geografinya yang baru. Pada tahun 1590, Mercator terserang stroke dan akibatnya ia tidak bisa berbicara dan tubuh bagian kirinya lumpuh, sehingga sangat sulit baginya untuk melanjutkan pekerjaan itu. Namun, ia bertekad untuk menyelesaikan karya idamannya, dan terus menggarapnya sampai ia meninggal pada tahun 1594 di usia 82 tahun. Putra Mercator, Rumold, merampungkan lima peta yang belum selesai. Koleksi lengkap peta Mercator diterbitkan pada tahun 1595. Itulah koleksi peta pertama yang menggunakan nama atlas.

Atlas Mercator memuat ulasan pasal pertama kitab Kejadian, yang isinya membela keautentikan Firman Allah yang ditentang para filsuf. Mercator menyebut ulasan ini ”tujuan akhir semua jerih payah saya”.

Tokoh Geografi pada Zaman Kita”

Sebuah edisi Atlas yang diperbesar, yang diterbitkan Jodocus Hondius pada tahun 1606, dicetak dalam banyak bahasa dan menjadi buku terlaris. Abraham Ortelius, pembuat peta abad ke-16, memuji Mercator sebagai ”tokoh geografi pada zaman kita”. Belum lama ini, penulis Nicholas Crane menyebut Mercator sebagai ”sang pelopor pemetaan bumi”.

Peninggalan Mercator masih menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, setiap kali membuka atlas atau mengaktifkan Sistem Penentuan Posisi Global (GPS), kita memperoleh manfaat dari jerih lelah Mercator, pria luar biasa yang sepanjang hidupnya berupaya mengetahui keberadaannya dalam arus waktu.


MERCATOR—PELAJAR ALKITAB YANG RAJIN

Mercator percaya bahwa dunia akan menjadi tempat adanya keadilbenaran, kedamaian, dan kemakmuran. Ia menulis sebuah komentar yang tidak diterbitkan mengenai Roma pasal 1-11, yang berisi sanggahannya atas gagasan pengikut Calvin tentang takdir. Yang menarik, ia juga tidak sependapat dengan Martin Luther dan menyatakan bahwa selain iman, perbuatan juga penting untuk keselamatan. Mercator menulis dalam sebuah surat bahwa dosa ”tidak timbul karena planet-planet [astrologi] atau karena kecenderungan alami tertentu yang diciptakan Allah, tetapi semata-mata karena kemauan manusia itu sendiri”. Dalam korespondensinya, ia menolak dogma Katolik Roma tentang transubstansiasi, dengan menyatakan bahwa kata-kata Yesus ”inilah tubuhku” tidak boleh ditafsirkan secara harfiah tetapi, sebaliknya, secara kiasan


Peta dunia Mercator, 1538
Note: Kata ”AMERI CAE” di kedua benua Amerika
Mercator's world map

Appeared (on-line) in Awake! April 2009. © 2010 for this blog from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.

Selasa, 06 Juli 2010

Perce Rock. Monolit yang Megah













OLEH PENULIS AWAKE! DI KANADA

SELAMA BERABAD-ABAD, para nelayan dan juru mudi kapal telah menggunakannya sebagai penanda lokasi yang dapat diandalkan. Para penyair, penulis, dan seniman telah mengabadikannya. Sebuah narasumber melukiskan monolit atau bongkahan batu besar ini sebagai sesuatu ”yang misterius dan memesona”. Itulah Percé Rock, yang terletak di ujung bagian timur Semenanjung Gaspé di Teluk St. Lawrence, yang dengan megahnya mencuat dari air biru Lautan Atlantik yang berkilau. Batu ini panjangnya sekitar 433 meter, lebarnya sekitar 90 meter, dan tingginya lebih dari 88 meter.

Penduduk setempat yang berani pernah memanjat tebing batu ini untuk mengambil telur dari sarang burung. Akan tetapi, pada tahun 1985, untuk melestarikan dan melindungi batu ini dan juga burung-burung yang berlindung di puncaknya, pemerintah Quebec menyatakan Percé Rock dan Pulau Bonaventure yang berdekatan sebagai suaka burung. Pulau Bonaventure merupakan suaka terbesar kedua di dunia, tempat berkembang biaknya burung ganet.

Ada yang berpendapat bahwa pada masa lampau, Percé Rock tersambung dengan daratan utama dan bisa jadi mempunyai sebanyak empat lubang yang seperti gapura. Namun, sekarang hanya tinggal satu—yang lebarnya lebih dari 30 meter—di bagian batu yang menjorok ke laut. Pada waktu air laut surut, sebuah beting menghubungkan batu ini dengan daratan utama. Selama selang waktu sekitar empat jam itu, para pemberani dapat langsung menuju ke dasar batu dan kemudian setelah berjalan dengan susah payah selama kira-kira 15 menit dapat menjangkau lubang yang seperti gapura itu.

Bagi orang-orang yang berjiwa petualang tersebut, ada peringatan. Seorang pelancong, yang merangkak melewati pecahan-pecahan batu untuk menjangkau mulut lubang yang menghadap ke laut, menceritakan, ”Setiap selang waktu beberapa menit Anda dapat mendengar bunyi yang menakutkan ibarat ledakan bom mini pada waktu ombak menghempaskan pecahan-pecahan batu itu. Batu-batuan itu saling berbenturan dan suaranya seperti suara letusan senjata.”

Seperti yang diakui oleh banyak pengunjung, Percé Rock memiliki keindahan yang memesona. Namun, itu hanya sebuah contoh dari begitu banyak pemandangan menakjubkan yang disajikan bumi kita. Sungguh banyak dan bervariasi semuanya! Sewaktu menyaksikannya, mungkin Anda juga akan tergugah untuk ’diam dan memperhatikan karya Allah yang menakjubkan’.—Ayub
37:14. Sumber publikasi Awake! April 2007, © 2010 for this blog

Senin, 28 Juni 2010

Sea Buckthorn—Pohon Serbaguna

Sewaktu bepergian di daerah pedesaan Rusia pada awal musim gugur, para pengunjung bisa menemukan sea buckthorn,* sejenis semak atau pohon kecil yang sarat dengan buah beri kecil seperti manik-manik berwarna jingga terang. Buah-buah beri itu tidak membentuk tandan tetapi tumbuh di setiap cabang serta ranting, seolah-olah menyelimutinya dengan lapisan warna yang menarik.

Buah beri tersebut bisa dimakan, tetapi berhati-hatilah terhadap duri-duri yang tajam ketika memetiknya! Anda harus memetiknya satu per satu dengan hati-hati agar tidak pecah. Karena cocok dengan iklim dingin, sea buckthorn kerap ditemukan di daerah pegunungan dari Eropa bagian barat laut sampai Pegunungan Altai di Asia Tengah, juga di Cina bagian barat serta utara dan di Pegunungan Himalaya bagian utara. Selama berabad-abad, buahnya sangat digemari di daerah seperti Cina, Rusia, dan Tibet.


Sea buckthorn disebut-sebut dalam teks pengobatan Tibet klasik maupun teks Yunani kuno. Nama Yunaninya, Hippophaë, berarti ”kuda mengilap”. Konon, nama itu berasal dari kebiasaan Yunani kuno, yakni menggunakan batang atau daun beri tersebut dengan cara tertentu untuk mengilapkan bulu kuda pacuan.

Sea buckthorn diperkenalkan ke Amerika Utara oleh imigran Rusia pada awal abad ke-20 sewaktu semak-semak dari Siberia dibawa ke Kanada serta Amerika Serikat untuk dibudidayakan. Banyak negara sekarang membudidayakan semak itu sebagai tanaman pangan serta tanaman obat yang penting.


Buah beri sea buckthorn mengandung, antara lain, vitamin C dan E, asam folat, karotenoid, asam lemak, dan flavonoid. Riset medis baru-baru ini telah meneliti berbagai pendapat tentang manfaat sea buckthorn dalam terapi kanker, juga dalam mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan mengobati infeksi pada lambung serta usus, gangguan kulit, dan penyakit liver. Buahnya juga bisa diolah menjadi minuman asam yang menyegarkan dan digunakan sebagai tonik untuk beragam penyakit.

Bagian yang paling bernilai dari beri sea buckthorn adalah biji hitamnya yang kecil. Minyak dalam biji ini mengandung sebagian besar nutrisi yang ada dalam beri tersebut. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa minyak sea buckthorn turut memperkuat sistem kekebalan. Selain itu, produk kosmetik dan perawatan kulit memanfaatkan minyaknya karena dianggap dapat meremajakan kulit.

Jika Anda sempat mengunjungi Rusia, Anda bisa melihat dan mengagumi keindahan beri sea buckthorn yang berwarna jingga-emas. Tetapi, sebagaimana telah kita simak, tanaman ini tidak hanya sedap dipandang. Sebenarnya, ini adalah salah satu dari banyak ciptaan yang membuktikan hikmat dan kebaikan Pencipta kita! Sumber Awake! September 2009

[Catatan Kaki]

* Tanaman ini tumbuh di sepanjang pantai Eropa serta Asia, dan nama Latinnya adalah Hippophae rhamnoides.


Rabu, 16 Juni 2010

Menguak Misteri Gen-Gen Anda



Pada tahun 1953, para ilmuwan memecahkan kode genetika. Sejak itu, lebih banyak rahasia telah disingkapkan. Ada apa di balik misteri kehidupan?

Gen, DNA, dan Anda

AMATILAH diri Anda sendiri secara saksama pada cermin. Perhatikan warna mata, tekstur rambut, warna kulit, dan bentuk tubuh Anda. Pikirkan bakat-bakat yang Anda miliki. Apa yang membuat Anda menjadi diri Anda yang sekarang? Mengapa Anda memiliki sifat dan bakat tertentu? Sekarang, misteri ini diperjelas melalui pemahaman akan genetika—pengkajian hereditas—dan pengaruh lingkungan.

Genetika?’ keluh Anda. ’Rasanya topik ini terlalu ilmiah dan terlalu sulit untuk dipahami!’ Akan tetapi, pernahkah Anda mengatakan kepada seseorang bahwa ia berkulit gelap seperti ayahnya tetapi berambut ikal seperti ibunya? Jika demikian, berarti Anda telah mengetahui fakta dasar genetika—sifat-sifat jasmani yang diturunkan dari orang-tua kepada anaknya. Selain itu, fakta tersebut boleh jadi merupakan langkah awal untuk memahami asal-usul manusia—melalui evolusi atau penciptaan. Pertama-tama, marilah kita lihat bagaimana warisan ini diturunkan kepada kita dari generasi ke generasi.

Tubuh Anda terdiri dari unit-unit kehidupan yang sangat kecil yang disebut sel—menurut perkiraan, jumlahnya sekitar 100 triliun. Dalam setiap sel, di dalam nukleus atau inti sel, terdapat ribuan gen. Ini adalah unit-unit hereditas yang mengendalikan sel dan, dengan demikian, menentukan beberapa karakteristik Anda. Ada gen-gen yang menentukan golongan darah Anda; ada pula yang menentukan tekstur rambut, warna mata, dan seterusnya. Jadi, setiap sel memiliki cetak biru atau daftar kode miniatur berupa gen-gen, yang memuat semua instruksi yang dibutuhkan untuk membangun, memperbaiki, dan menjalankan tubuh Anda. (Lihat diagram pada halaman 5.) Mungkinkah semua ini terjadi secara kebetulan?

Bagaimana Misteri Tersebut Dikuak

Teori bahwa sifat-sifat diwariskan melalui darah digagaskan oleh Aristoteles pada abad keempat SM dan diterima oleh masyarakat luas selama lebih dari seribu tahun. Pengaruhnya terhadap pemikiran pada masa itu sedemikian besarnya sehingga menjadi bagian dari bahasa Inggris. Bahkan dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata pertalian darah dan saudara sedarah.

Pada abad ke-17, ditemukanlah sel telur dan sel sperma, tetapi terdapat kesalahpahaman tentang fungsi sebenarnya dari kedua jenis sel itu. Ada yang mengira bahwa dalam telur maupun sperma terdapat makhluk kecil yang sudah terbentuk sepenuhnya. Namun, pada abad ke-18, para peneliti dengan tepat mengakui bahwa telur dan sperma bersatu membentuk embrio. Meskipun demikian, penjelasan yang saksama tentang hereditas masih belum diperoleh.

Baru pada tahun 1866, seorang biarawan asal Austria bernama Gregor Mendel menerbitkan teori hereditas yang untuk pertama kalinya tepat. Dari eksperimen menggunakan kacang polong, Mendel menemukan apa yang ia sebut ”unsur-unsur hereditas yang unik” yang tersembunyi dalam sel-sel jenis kelamin, dan ia menegaskan bahwa unsur-unsur ini bertanggung jawab menurunkan sifat-sifat. ’Unsur hereditas yang unik’ ini kini dikenal sebagai gen.

Sekitar tahun 1910, ditemukan bahwa gen-gen terletak pada struktur sel yang disebut kromosom. Kromosom terutama terdiri dari protein dan DNA (asam deoksiribonukleat). Karena para ilmuwan telah mengetahui peran penting protein dalam fungsi sel lain, selama bertahun-tahun mereka menyimpulkan bahwa protein-protein dalam kromosom memuat informasi genetika. Kemudian, pada tahun 1944, para peneliti menyajikan bukti pertama bahwa gen terdiri dari DNA, bukan protein.

Pada tahun 1953, sewaktu James Watson dan Francis Crick menemukan struktur kimia DNA, berupa molekul-molekul seperti benang berpilin, dan ini merupakan langkah maju yang besar dalam upaya manusia menguak misteri kehidupan.

Mengintip Lewat Mikroskop

SEL disebut unit kehidupan yang fundamental. Sesungguhnya, makhluk hidup—termasuk tumbuhan, serangga, binatang, dan manusia—terdiri dari sel-sel. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah mengintip cara kerja sel serta menyingkapkan banyak rahasia biologi molekuler dan genetika. Marilah kita mencermati sel serta membahas apa yang telah sains temukan tentang unit kehidupan mikroskopis yang mencengangkan ini.


Mengintip Unit Mikroskopis Ini

Bentuk sel bervariasi. Ada yang persegi; ada pula yang bujur sangkar. Ada sel yang bulat, lonjong seperti telur, dan ada yang tampak tidak beraturan. Perhatikan amuba, organisme bersel tunggal yang bentuknya sama sekali tidak menentu. Sebaliknya, bentuknya berubah seraya ia bergerak. Menarik, fungsi sebuah sel sering kali dapat diketahui dari bentuknya. Misalnya, ada sel otot yang panjang, tipis, dan berkontraksi sewaktu bekerja. Sel saraf—yang merelai berita ke seluruh tubuh—memiliki cabang-cabang yang panjang.

Ukuran sel juga berbeda-beda. Namun, kebanyakan terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Untuk mengilustrasikan ukuran rata-rata sebuah sel, lihatlah tanda titik pada akhir kalimat ini. Titik kecil itu dapat menampung 500 sel berukuran sedang! Kalau Anda merasa bahwa itu sangat kecil, ingatlah bahwa beberapa sel bakteri kira-kira 50 kali lebih kecil lagi. Bagaimana dengan sel yang terbesar? Itu adalah kuning telur dari sebutir telur burung unta—si ”raksasa” bersel tunggal, yang berdiameter sekitar 23 sentimeter!

Karena kebanyakan sel tidak terlihat oleh mata telanjang, para ilmuwan menggunakan instrumen, seperti mikroskop, untuk mempelajarinya.* Sekalipun demikian, beberapa detail yang rumit dari sebuah sel masih tidak terlihat dengan jelas. Pikirkan hal ini: Sebuah mikroskop elektron dapat memperbesar sebuah sel sekitar 200.000 kali lipat—pembesaran yang membuat seekor semut tampak sepanjang 800 meter. Namun, bahkan dengan pembesaran ini pun, beberapa detail sel tidak terlihat!

Dengan cara ini, para ilmuwan telah mendapati bahwa sel luar biasa rumitnya. Dalam buku The Fifth Miracle, fisikawan Paul Davies menyatakan, ”Dalam setiap sel terkemas struktur-struktur yang sangat kecil yang seolah-olah dibuat langsung berdasarkan petunjuk dalam buku pedoman teknik. Ada banyak sekali pinset, gunting, pompa, motor, pengungkit, katup, pipa, rantai, dan bahkan kendaraan yang sangat kecil di dalamnya. Tetapi, tentu saja, sel bukan hanya sekantong penuh peralatan. Berbagai komponen tersebut saling bertautan untuk membentuk suatu kesatuan yang berfungsi dengan lancar, bagaikan jalur produksi yang rumit dalam sebuah pabrik.”


Mengintip Bagian Dalam Sel
Di dalam setiap sel terdapat nukleus—pusat komando sel. Di dalam nukleus terdapat kromosom, yang terdiri dari molekul-molekul DNA yang terpilin rapat dan protein. Gen-gen kita terletak pada molekul DNA ini. Ribosom, pabrik penghasil protein, terletak dalam sitoplasma sel, yang berada di luar nukleus.

[Diagram]

Sel
Ribosom
Sitoplasma
Nukleus
Kromosom
DNA—tangga kehidupan


DNA—Molekul Hereditas

Manusia, serta tumbuhan dan binatang bersel banyak, berawal dari sel tunggal. Setelah sel itu mencapai ukuran tertentu, ia membelah diri dan membentuk dua sel. Kemudian, kedua sel ini membelah diri dan membentuk empat sel. Seraya terus membelah diri, sel-sel berspesialisasi—yakni, berdiferensiasi, menjadi sel otot, sel saraf, sel kulit, dan seterusnya. Seraya proses tersebut berlanjut, banyak sel berkelompok membentuk jaringan. Misalnya, sel-sel otot bergabung dan membentuk jaringan otot. Jaringan yang berbeda-beda membentuk organ, seperti jantung, paru-paru, dan mata.

Di bawah lapisan tipis pada setiap sel terdapat cairan seperti agar-agar yang disebut sitoplasma. Setelah itu terdapat nukleus, yang dipisahkan dari sitoplasma oleh selapis membran tipis. Nukleus disebut pusat kendali sel karena ia mengendalikan hampir semua kegiatan sel. Di dalam nukleus terdapat program genetika sel, tertulis dalam asam deoksiribonukleat—singkatnya, DNA.

Molekul-molekul DNA terpilin rapat dalam kromosom sel. Gen-gen Anda, yang merupakan bagian dari molekul DNA, memuat semua informasi yang dibutuhkan untuk menjadikan diri Anda. ”Program genetika yang terdapat dalam DNA membuat setiap makhluk hidup berbeda dari semua makhluk hidup lain,” demikian dijelaskan oleh The World Book Encyclopedia. ”Program ini membuat anjing berbeda dari ikan, zebra berbeda dari mawar, dan pohon dari tawon. Ini membuat Anda berbeda dari setiap orang lain di bumi.”

Jumlah informasi yang dimuat dalam DNA satu sel Anda saja sungguh menakjubkan. Dibutuhkan kira-kira satu juta halaman seukuran majalah ini! Karena DNA bertanggung jawab meneruskan informasi hereditas dari satu generasi sel ke generasi berikutnya, DNA disebut rencana induk dari semua kehidupan. Tetapi, seperti apakah DNA itu?

DNA terdiri dari dua untaian yang saling membelit dan berbentuk seperti tangga berpilin dengan anak tangganya atau tangga spiral. Kedua untaian tersebut saling dihubungkan oleh kombinasi empat senyawa yang disebut basa. Setiap basa pada satu untaian berpasangan dengan satu basa pada untaian lain. Pasangan-pasangan basa ini membentuk anak tangga dari tangga berpilin DNA. Urutan basa-basa pada molekul DNA-lah yang menentukan informasi genetika yang terdapat di dalamnya. Singkatnya, urutan ini menentukan hampir segala sesuatu tentang Anda, dari warna rambut hingga bentuk hidung Anda.

DNA, RNA, dan Protein

Protein merupakan makromolekul yang paling banyak ditemukan dalam sel. Diperkirakan bahwa pada sebagian besar organisme, lebih dari setengah berat keringnya adalah protein! Protein terdiri dari blok bangunan yang lebih kecil yang disebut asam amino. Beberapa asam amino dibuat oleh tubuh Anda; yang lainnya harus diperoleh dari menu makanan Anda.

Ada banyak fungsi protein. Misalnya, hemoglobin, protein yang terdapat dalam sel darah merah, mengangkut oksigen ke seluruh tubuh Anda. Ada juga antibodi, yang membantu tubuh terhindar dari penyakit. Protein lain, seperti insulin, membantu metabolisme makanan serta mengatur berbagai fungsi sel. Secara keseluruhan, ada ribuan jenis protein dalam tubuh Anda. Dalam satu sel saja mungkin terdapat ratusan jenis protein!

Setiap protein menjalankan fungsi spesifik yang ditentukan oleh gen DNA-nya. Tetapi, bagaimana informasi genetika dalam gen DNA yang berupa kode diuraikan untuk membuat protein tertentu? Sebagaimana diperlihatkan dalam diagram terlampir, ”Bagaimana Protein Terbentuk”, pertama-tama informasi genetika yang tersimpan dalam DNA harus dipindahkan dari nukleus sel ke dalam sitoplasma, yang memuat ribosom, atau pabrik penghasil protein. Pemindahan ini terlaksana melalui perantara yang disebut asam ribonukleat (RNA). Ribosom-ribosom dalam sitoplasma ”membaca” instruksi RNA dan merakit asam amino dalam urutan yang tepat untuk membentuk protein tertentu. Jadi, ada hubungan saling tergantung antara DNA, RNA, dan pembentukan protein.

Dari Mana Asal Mulanya?

Penelitian genetika dan biologi molekuler telah menarik perhatian para ilmuwan selama puluhan tahun. Fisikawan Paul Davies merasa skeptis bahwa seorang Pencipta berada di balik semua hal ini. Meskipun demikian, ia mengakui, ”Setiap molekul memiliki fungsi dan tempat yang telah ditentukan dalam kerangka sistematis sehingga dihasilkan benda-benda yang tepat. Ada banyak pengangkutan yang berlangsung. Molekul-molekul harus menyeberangi sel untuk bertemu molekul lain pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat agar dapat menjalankan tugas mereka dengan benar. Semua ini terjadi tanpa ada seorang bos yang memerintah molekul-molekul itu dan mengarahkan mereka ke lokasinya yang tepat. Tidak ada pengawas yang mengawasi kegiatan mereka. Molekul-molekul melakukan saja apa yang harus dilakukannya: saling bertubrukan tanpa harus melihat, saling berantukan, berpentalan, bergabung. . . . Entah bagaimana, secara kolektif, atom-atom yang tidak dapat berpikir ini bergabung dan melakukan ritme kehidupan dengan ketepatan yang sempurna.”

Sungguh beralasan bila banyak orang yang telah mempelajari cara kerja sel menyimpulkan bahwa pasti ada suatu kuasa cerdas yang menciptakannya. Marilah kita perhatikan alasannya.

Salinan dari Situs resmi on line by Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania.


[Catatan Kaki]

* Untuk mempelajari kandungan kimia dan karakteristik sel, para ilmuwan juga menggunakan sentrifus, sebuah instrumen yang memisahkan komponen-komponennya.


Bagaimana DNA Memperbanyak Diri [C-link]

Bagaimana Protein Terbentuk [C-link]

[C-Link] Ada Apa di Balik Misteri Kehidupan?